Easterfeeds, Jakarta – Meta double sniper menjadi salah satu pembahasan paling menarik setelah berakhirnya Week 1 FFWS SEA 2026 Fall. Strategi ini terlihat cukup dominan di papan atas klasemen, khususnya dari sejumlah tim Thailand yang dinilai lebih siap memainkan gaya permainan berbasis zoning.
Dalam konferensi pers menjelang Week 2, sejumlah coach dari tim Indonesia memberikan pandangannya mengenai efektivitas double sniper. Menariknya, tidak semua tim menganggap mengikuti meta sebagai satu-satunya jalan untuk meraih hasil maksimal.
Double Sniper Bukan Sekadar Memainkan Dua Sniper
Coach Avem dari ONIC menjelaskan bahwa keberhasilan double sniper tidak hanya ditentukan oleh komposisi pemain. Menurutnya, kualitas tim, strategi, zoning, rotasi, hingga respect terhadap lawan menjadi faktor penting.
“Enggak semua tim bisa pakai meta double sniper,” ujar Coach Avem dalam konferensi pers.
Menurutnya, tim yang menggunakan strategi tersebut harus memiliki kemampuan untuk mengontrol area sejak fase awal pertandingan. Sniper dapat memberikan tekanan dari jarak jauh sehingga tim tidak perlu terburu-buru masuk ke area tengah zona.
Pendekatan tersebut membuat double sniper sangat bergantung pada kemampuan tim dalam menjaga posisi dan memanfaatkan resource yang tersedia.
Tim Thailand Dinilai Lebih Siap dengan Meta Double Sniper
Performa tim-tim Thailand di Week 1 juga menjadi salah satu alasan mengapa meta ini mendapatkan perhatian besar. Coach Avem menilai gaya bermain Thailand sudah cukup cocok dengan konsep zoning yang menjadi bagian penting dari double sniper.
Tim Thailand disebut sudah terbiasa bermain dengan pendekatan zoning dan menjaga drop zone. Dengan kondisi tersebut, mereka dapat memanfaatkan sniper untuk mengontrol pergerakan lawan sekaligus mendapatkan keuntungan posisi.
Coach Kris Jo juga menyoroti Falcon yang dinilai sudah mencoba komposisi double sniper sebelum FFWS SEA 2026 Fall berlangsung. Hal tersebut membuat proses adaptasi mereka terhadap meta menjadi lebih singkat.
Situasi tersebut berbeda dengan sejumlah tim Indonesia yang baru mulai mengembangkan strategi serupa ketika kompetisi sudah berjalan.
Bigetron Pilih Lanjutkan Double Sniper
Bigetron menjadi salah satu tim Indonesia yang memutuskan untuk tetap menggunakan double sniper pada pertandingan berikutnya.
Namun, menurut Coach Kris Jo, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan komposisi tersebut. Bigetron juga harus mendapatkan drop zone yang lebih aman agar strategi mereka bisa berjalan maksimal.
Drop zone yang minim konflik memungkinkan tim mendapatkan resource lebih banyak, termasuk senjata dan item pendukung seperti Bolt Maker serta Launchpad. Kondisi tersebut juga memberikan ruang bagi tim untuk menghindari pertarungan terlalu dini dan mengamankan placement point.
Dengan demikian, strategi double sniper Bigetron tidak bisa dilepaskan dari bagaimana mereka mengamankan wilayah sejak early game.
MBR Omega Tidak Mau Terburu-buru Mengikuti Meta
Berbeda dengan Bigetron, MBR Omega memilih untuk tidak langsung mengubah fondasi permainan mereka demi mengikuti tren double sniper.
Coach Tri menilai MBR Omega masih memiliki fondasi permainan yang dibangun sejak FFNS. Mengubah sistem permainan secara drastis dalam waktu singkat justru berpotensi mengganggu chemistry dan pola permainan yang sudah terbentuk.
MBR Omega pun memilih fokus memperkuat permainan early game, terutama ketika harus menghadapi tim yang menggunakan dua sniper.
Jika mampu melewati fase awal tanpa mengalami kerugian besar, MBR Omega merasa lebih percaya diri dengan permainan mereka di mid hingga late game.
RRQ Kazu Siapkan Banyak Opsi
Sementara itu, RRQ Kazu mengambil pendekatan yang lebih fleksibel. Coach Adi menjelaskan bahwa double sniper tidak harus menjadi pilihan utama sepanjang pertandingan.
Jika strategi tersebut tidak memberikan hasil yang diharapkan, RRQ dapat menggunakan komposisi lain seperti 3-1 maupun empat rusher.
Pendekatan ini membuat RRQ tidak bergantung pada satu meta. Double sniper justru diposisikan sebagai salah satu opsi tambahan yang dapat digunakan sesuai situasi pertandingan.
Strategi tersebut menjadi menarik karena RRQ memiliki waktu untuk menguji berbagai pendekatan selama fase knockout berlangsung.
ONIC dan EVOS Masih Mencari Formula Terbaik
ONIC juga masih melakukan evaluasi terhadap komposisi roster mereka. Coach Avem menyebut timnya kemungkinan akan melakukan rolling pemain untuk menemukan kombinasi yang paling sesuai.
ONIC tidak hanya memikirkan efektivitas double sniper, tetapi juga bagaimana roster yang digunakan dapat menjadi fondasi untuk menghadapi pekan-pekan berikutnya.
Hal serupa terjadi di EVOS. Coach Lim mengatakan timnya masih mencari kombinasi roster terbaik dan akan menyesuaikan komposisi berdasarkan situasi.
EVOS juga tidak menutup kemungkinan menggunakan double sniper apabila strategi tersebut dianggap paling efektif bagi tim.
Masalahnya Bukan Hanya Meta, tetapi Waktu Latihan
Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi tim Indonesia adalah terbatasnya waktu untuk melakukan eksperimen.
Coach Avem menjelaskan bahwa jadwal kompetisi yang padat membuat tim sulit mengubah sistem permainan secara drastis di tengah turnamen. Perubahan dari satu sniper menjadi dua sniper membutuhkan latihan dan proses adaptasi yang tidak sebentar.
Jika perubahan dilakukan tanpa persiapan yang cukup, sistem baru justru dapat membuat pemain kehilangan kepercayaan diri dan mengganggu chemistry tim.
Karena itu, tim yang sudah memiliki fondasi kuat cenderung lebih aman mempertahankan sistem yang telah mereka latih, sembari menambahkan opsi baru sesuai kebutuhan.
Week 2 Jadi Ujian Sebenarnya untuk Meta Double Sniper
Menariknya, sejumlah coach menilai Week 1 belum cukup untuk menentukan apakah double sniper benar-benar menjadi meta yang tidak terbendung.
Coach Adi menilai tim-tim di fase knockout memiliki tujuan utama untuk mengamankan posisi 12 besar. Kondisi tersebut membuat beberapa tim mungkin belum menunjukkan strategi terbaik mereka secara penuh.
Hal ini membuat Week 2 dan Week 3 menjadi semakin penting. Ketika persaingan menuju Grand Final semakin ketat, tim tidak hanya membutuhkan kill point, tetapi juga harus mampu menjaga konsistensi placement.
Di titik tersebut, efektivitas double sniper akan semakin diuji. Apakah tim yang menggunakannya mampu mempertahankan keunggulan, atau justru tim lain menemukan cara untuk mengeksploitasi kelemahannya?
Double Sniper Bukan Satu-satunya Jalan Menuju Grand Final
Dari berbagai pandangan para coach, satu hal terlihat jelas: meta double sniper memang kuat, tetapi bukan berarti menjadi satu-satunya jalan menuju kemenangan.
Bigetron memilih mempertahankannya. RRQ menyiapkan beberapa alternatif. ONIC dan EVOS masih melakukan evaluasi roster serta komposisi. Sementara MBR Omega memilih mempertahankan fondasi permainan dan mencoba mengatasi keunggulan double sniper melalui early game.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah strategi tetap bergantung pada kualitas eksekusi. Komposisi yang sedang populer tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tim tidak memiliki chemistry, rotasi, zoning, serta pemahaman permainan yang memadai.
Karena itu, Week 2 FFWS SEA 2026 Fall akan menjadi panggung menarik untuk melihat apakah double sniper masih menjadi senjata utama, atau justru mulai muncul strategi baru untuk membongkar meta tersebut.
Dapatkan berita game dan informasi menarik lainnya seputar dunia game, esports, culture dan techno hanya di Easterfeeds.
Buat kalian yang belum dan ingin mengikuti perkembangan terbaru dan berita gaming lainnya di akun sosial media kami.






