NVIDIA Dorong Mahasiswa Beralih dari AI User Menjadi AI Builder

RTX AI PC Day menjadi bagian dari upaya NVIDIA memperkenalkan perkembangan teknologi AI kepada lingkungan akademik. Melalui kolaborasi dengan UPH, NVIDIA ingin mendorong mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana membangun solusi, bukan sekadar menggunakan aplikasi AI yang sudah tersedia.
Adrian Lesmono, Country Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia, menekankan pentingnya memulai transformasi tersebut sejak bangku kuliah.
“Transformasi dari AI user menjadi AI builder perlu dimulai dari kampus. Kolaborasi dengan UPH dalam RTX AI PC Day menjadi sangat relevan karena kami ingin mendorong mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk tidak hanya menggunakan AI, tetapi juga membangun solusi inovatif.”
Menurut Adrian, dukungan NVIDIA RTX AI PC dapat membantu mahasiswa mengeksplorasi ide, memperkuat riset, mendukung kreativitas, serta mengembangkan solusi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Perkembangan AI sendiri tidak lagi terbatas pada chatbot atau teknologi generatif. AI juga dapat dimanfaatkan untuk pengolahan suara, pembuatan konten, desain, hingga otomatisasi pekerjaan. Meski demikian, kreativitas, keahlian, dan pemahaman manusia tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas hasil akhirnya.
GeForce RTX 50 Series Dukung Komputasi AI Lokal
Salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah komputasi AI lokal melalui perangkat berbasis NVIDIA RTX. Dengan dukungan Tensor Cores khusus, GPU GeForce RTX dirancang untuk mempercepat berbagai beban kerja AI, termasuk pengembangan model, pemrosesan data, desain 3D, dan produksi video.
Ekosistem RTX AI PC juga mendukung lebih dari 1.000 aplikasi dan game berbasis AI. Kemampuan tersebut memungkinkan pengguna memanfaatkan satu perangkat untuk beragam kebutuhan, mulai dari produktivitas akademik hingga kreativitas digital dan gaming.
Pemrosesan AI secara lokal dapat membantu menjaga responsivitas dan memungkinkan data tetap berada di perangkat. Pendekatan ini juga memberikan alternatif terhadap layanan AI berbasis cloud, meskipun kemampuan AI lokal tetap bergantung pada spesifikasi perangkat keras dan model yang digunakan.
Dalam konteks pendidikan, keberadaan perangkat dengan kemampuan komputasi yang memadai membuka peluang bagi mahasiswa untuk melakukan eksperimen secara lebih praktis, menguji berbagai pendekatan, dan mengembangkan prototipe sesuai kebutuhan bidang studi masing-masing.
Tiga Mahasiswa UPH Tampilkan Proyek AI di Berbagai Bidang

Salah satu sorotan RTX AI PC Day adalah presentasi tiga mahasiswa UPH yang mengembangkan proyek dengan kebutuhan komputasi berbeda. Proyek-proyek tersebut mencakup riset segmentasi polip, komputasi paralel, dan sistem deteksi hama berbasis AI.
1. Richie Cedrick Adrian Kembangkan Riset Segmentasi Polip
Richie Cedrick Adrian memanfaatkan laptop Acer Predator Helios 18 AI yang dilengkapi GeForce RTX 5090 untuk mendukung riset segmentasi polip. Performa GPU, kapasitas VRAM, dan Tensor Cores membantu mempercepat proses pelatihan serta pengujian model AI.
Dukungan komputasi tersebut memungkinkan Richie menjalankan eksperimen dengan lebih efisien, sehingga dapat berfokus pada pengembangan metode dan evaluasi hasil penelitian.
2. Annabel Kineta Jovinne Caron Manfaatkan Komputasi Paralel
Annabel Kineta Jovinne Caron, mahasiswi Informatika UPH, menggunakan Acer Predator Helios Neo 16 AI dengan GeForce RTX 5070 untuk mengerjakan proyek komputasi paralel dan algoritma graf berbasis CUDA.
Proyeknya mencakup parallel benchmark dan kalkulasi matriks berskala besar. Performa perangkat yang stabil serta desain yang mendukung mobilitas turut menunjang proses pengembangan dan eksperimen yang dilakukannya.
3. Bryan Daniel Angelino Bangun Sistem Deteksi Hama SIPETIK
Sementara itu, Bryan Daniel Angelino dari program studi Sistem Informasi mengembangkan SIPETIK, sebuah sistem deteksi hama berbasis YOLOv8. Ia menggunakan Acer Predator Triton 14 AI dengan GeForce RTX 5070 untuk mempercepat proses training dan inference.
Dukungan tersebut membantu pengembangan sistem yang ditujukan untuk mendeteksi hama secara real-time. Proyek ini memperlihatkan bagaimana AI dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan praktis di luar bidang teknologi informasi, termasuk dalam konteks pertanian.
Ketiga proyek tersebut menunjukkan potensi AI PC dalam mendukung riset lintas disiplin. Mahasiswa dapat mengembangkan gagasan menjadi prototipe, melakukan pengujian, dan mengevaluasi hasil eksperimen dengan bantuan kemampuan komputasi GPU.
Program GeForce Campus Leaders Dukung Inovasi Mahasiswa
Untuk memperluas kesempatan mahasiswa dalam mengembangkan proyek berbasis AI, NVIDIA juga menghadirkan program GeForce Campus Leaders di UPH. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa terpilih untuk mengembangkan proyek yang berupaya menjawab tantangan nyata di berbagai bidang, seperti kesehatan, ilmu komputer, pertanian, dan pengembangan produk digital.
Dalam pelaksanaan program di UPH, NVIDIA bekerja sama dengan Acer. Mahasiswa terpilih menerima dukungan satu unit laptop Acer yang ditenagai NVIDIA GeForce RTX 50 Series Laptop GPU untuk menunjang pengembangan proyek mereka selanjutnya.
Fransisca Maya, Head of Marketing Acer Indonesia, menyampaikan bahwa pengalaman langsung dalam bereksperimen, mencipta, dan memecahkan masalah merupakan bagian penting dari penguasaan AI.
“Melalui dukungan perangkat berperforma tinggi bagi GeForce Campus Leaders di UPH, kami berharap semakin banyak talenta muda Indonesia berani mengeksplorasi teknologi dan melahirkan solusi berbasis AI yang dapat menghadirkan kehidupan yang lebih baik.”
Acer berharap dukungan tersebut dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri sekaligus mendorong mereka untuk menciptakan inovasi baru.
UPH: AI Harus Memperkuat Kompetensi, Bukan Menjadi Jalan Pintas
Kolaborasi ini juga mendapat dukungan dari Universitas Pelita Harapan. Rizaldi Sistiabudi, BSE, MSc(Eng), PhD, Executive Dean of College of Emerging Science UPH, menilai pemanfaatan AI perlu berjalan seiring dengan penguasaan teori, kemampuan analisis, dan keterampilan yang dimiliki mahasiswa.
“Bagi kami, AI bukanlah jalan pintas, melainkan teknologi yang dapat memperkuat kompetensi, pemahaman teori, dan keahlian yang telah dimiliki seseorang.”
Rizaldi menambahkan bahwa teknologi seperti NVIDIA RTX AI PC dapat membantu mahasiswa mempercepat proses riset, mengembangkan ide, dan menghasilkan karya yang semakin mendekati standar industri.
Menurut UPH, pendidikan AI juga perlu mencakup penerapan lintas disiplin ilmu. Teknologi ini berpotensi mendukung berbagai bidang, termasuk desain, hukum, dan kedokteran. Karena itu, mahasiswa tidak hanya perlu memahami cara menggunakan AI, tetapi juga mengetahui bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara tepat untuk menyelesaikan masalah.
RTX AI PC untuk Produktivitas, Kreativitas, dan Gaming

Selain mendukung riset dan pengembangan perangkat lunak STEM, GeForce RTX 50 Series Laptop GPUs menawarkan kemampuan untuk berbagai kebutuhan dalam satu perangkat. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk fine-tuning model AI, generative AI, desain dan rendering 3D, serta pengeditan video dengan efek berbasis AI.
Teknologi NVIDIA Broadcast juga dapat membantu meningkatkan kualitas komunikasi dan produksi konten, sedangkan NVIDIA DLSS mendukung pengalaman gaming melalui teknologi berbasis AI.
Dengan kemampuan tersebut, RTX AI PC dapat menjadi perangkat pendukung bagi mahasiswa yang ingin menggabungkan kegiatan akademik, eksperimen
Buat kalian yang belum dan ingin mengikuti perkembangan terbaru dan berita gaming lainnya di akun sosial media kami.






