Sang coach justru mengaku makin semangat melanjutkan perjalanan ke event-event berikutnya, bukan hanya di 2026, tetapi juga di tahun-tahun mendatang.
“Kalau aku menanggapi hal itu, bisa aku bilang nggak ada pressure sama sekali. Cuma kita, terkhusus aku pribadi, jadi lebih semangat buat lanjutin ke event-event berikutnya.”
Olah Data Player, Jaga Win Streak
Semangat itu ia salurkan lewat pendekatan baru. Sang coach belajar mengolah data para pemainnya, mulai dari skill, damage, hingga assist di dalam game. Dengan begitu, para pemain bisa menilai sendiri apakah performa mereka sedang naik, turun, atau stabil.
Soal beban, jawabannya sama: tidak ada. Yang ingin dijaga adalah win streak. Meski di FFMI4 tim ini hanya finis di posisi ketiga, tahun ini Bigetron sudah mengamankan gelar juara di FFMAI Summer 2026 dan FFWS SEA 2026.
Global Finals, Trofi yang Lebih Membanggakan
Bagi sang coach, FFWS Global Finals adalah menu utama Free Fire karena merupakan turnamen resmi dari Garena. Ia menyebut trofi di ajang ini lebih membanggakan dibandingkan EWC, yang menurutnya berformat kemitraan dan diselenggarakan pihak EWC sendiri.
Ia menegaskan ini bukan karena kegagalan di EWC. Ia memang sudah lama menantikan Global Finals. Pada 2022, ia gagal di Singapura bersama Eko Esports, lalu kembali gagal pada 2024 di Rio de Janeiro, Brasil, bersama Btr.
“Di Global Final Bangkok, Thailand, ya harusnya ajang bukti. No more failure lah, nggak ada gagal lagi.”
Dropzone Tak Berubah, Sentil Tim yang Buka Strategi
Dengan 24 tim yang bertanding, termasuk tim debutan dari India, dropzone jadi pertanyaan besar. Jawaban sang coach: Bigetron tidak mengubah satu pun dropzone. Tim ini juga sudah mempelajari dropzone para lawan.
Ia mengaku sudah melihat ada tim yang menyatakan akan berpindah dropzone untuk menghantam Btr. Pernyataan itu disampaikan terbuka di media sosial, dan sang coach menilai langkah tersebut keliru.
“Menurutku mereka pecundang. Sebelum mereka bermain, mereka sudah sharing dropzone mereka.”
Menurutnya, dropzone adalah hal spesial yang seharusnya dirahasiakan. Ia juga menyebut ada indikasi tim dari region lain yang saling berbagi pembagian dropzone agar tidak bertabrakan. Dari pengalamannya di dunia esports, ajakan seperti itu memang pernah datang, tetapi ia memilih menolak dan bermain fair.
Ia mengaku lebih suka menunjukkan kejutan saat matchday, bukan di scrim. Apalagi di game battle royale seperti Free Fire, variabelnya sangat banyak.






